Malang – Aksi dugaan kekerasan diduga dilakukan oleh oknum kepala sekolah berinisial A dari salah satu SMP negeri di Kota Malang terhadap para siswanya. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (24/9/2026) pagi ketika para pelajar baru saja tiba di lingkungan sekolah.
Saat itu, A bersama beberapa guru tengah menyambut siswa di pintu gerbang. Sesuai kebiasaan, para murid dibiasakan untuk bersalaman. Dari sinilah sejumlah siswa diduga mendapat tindakan pemukulan dari oknum kepala sekolah tersebut lantaran tidak memakai seragam kebaya lurik secara lengkap.
Seorang siswa berinisial S menceritakan bahwa insiden dugaan kekerasan itu berlangsung pada Kamis (24/9/2026) pagi setibanya di sekolah. Dirinya mengaku mendapat tiga kali tamparan di bagian wajah dan pipi hingga mengalami pembengkakan.
“Kemarin kejadiannya, kan masuk ramai-ramai di sini, saya kira ada apa, ditanya baju lurik, mau menjelaskan itu nggak bisa, tiba-tiba ditampar tiga kali. Ini mata saya sampai merah, terus pipi bengkak,” kata S, saat ditemui di Kota Malang, Jumat (25/9/2026).
S menuturkan, aturan mengenakan kebaya Jawa lurik memang diberitakan berlaku pada hari Kamis. Akan tetapi, kebijakan tersebut ditetapkan oleh kepala sekolah yang baru secara mendadak, membuat sejumlah murid termasuk dirinya belum siap.
S sebenarnya sudah membeli pakaian tersebut, namun keliru membeli pakaian perempuan sehingga ia tidak mengenakannya saat itu. Diduga tersulut emosi, oknum kepsek berinisial A langsung menampar dan memukul beberapa siswa yang belum mematuhi aturan seragam.
“Ada beberapa anak, teman saya dipukul sampai berdarah sininya (wajahnya, red). Kamis itu kan wajib lurik, tapi hanya untuk kelas 7, kelas 8-9 tidak ketentuan tertulis sebenarnya. Kemarin itu saya beli tapi salah yang perempuan, mau menerangkan sudah langsung dipukul,” jelas siswa kelas 8 ini.
Pengalaman serupa dialami oleh W. Ia mengaku langsung dipukul tanpa ada percakapan lebih dahulu saat hendak menyalami para guru dan oknum kepala sekolah di gerbang.
“Mau salim tiba-tiba ditarik, pipi dipukul, ditanya mana lurikmu, mau jawab belum sempat malah dipukul, tiga kali kena (pukulan),” ucap W.
W sendiri baru masuk sekolah setelah sebelumnya absen selama tiga hari akibat sakit. Ia mengaku tidak mengetahui informasi kewajiban kebaya lurik yang ternyata hanya ditujukan bagi siswa kelas 7.
“Saya habis sakit, tiga hari nggak masuk, baru masuk tapi malah dipukul. Ini di pipi kiri masih nyeri,” ujarnya.
Di samping itu, W menyebutkan ada teman-temannya yang sempat merekam kejadian tersebut namun mendapat ancaman. Ancaman berupa pemberian poin hukuman hingga sanksi dikeluarkan membuat para murid merasa takut.
“Ya ada semacam intimidasi. Yang punya video disuruh menghapus, kalau tidak akan ditindaklanjuti akan dihukum,” tuturnya.
Perbuatan oknum kepala sekolah ini lantas memicu kemarahan serta protes dari para orang tua murid. Mereka mendatangi SMPN 18 Kota Malang pada Jumat pagi (25/9/2026) guna menghentikan kegiatan belajar mengajar sementara. Salah satu wali murid bernama Rulli menyampaikan bahwa anaknya turut menjadi korban pemukulan di sekitar wajah dan pipi.
“Itu kan pas kemarin, kejadiannya sekitar jam 07.00. itu anak saya nggak pakai baju lurik, soalnya kan masih dijahit, soalnya sobek. Terus ditempeleng tiga kali, dicubit perutnya satu kali, sama dijewer,” kata Rulli.
Selepas kejadian, anaknya yang berinisial F sempat memilih bungkam. Rulli justru mengetahui kabar pemukulan tersebut dari rekaman video yang dikirimkan oleh orang tua murid lain sebelum akhirnya bertanya langsung kepada anaknya.
“Aku ngertinya tuh pas video itu. Anaknya enggak ngomong. Terus tahu video itu saya tanyain, kok nggak bilang, katanya takut. Takut diintimidasi gitu,” ungkapnya lagi.
Rulli menyatakan sangat menyayangkan tindakan oknum kepsek SMPN di Kota Malang yang diduga melakukan kekerasan fisik. Terlebih lagi, alasan di balik tindakan tersebut lantaran siswa belum mengenakan seragam kebaya lurik dari aturan yang mendadak dibuat.
“Kan itu tiba-tiba, makanya seragamnya itu masih dijahit, belum jadi, tapi di sekolah malah dipukul, kan seharusnya tidak begitu,” tandasnya. (AB)

Leave a comment