Tiga Pelajar Sekolah Rakyat Jember Diduga Dihajar Mahasiswa Pembimbing, Keluarga Pilih Lapor Polisi

Tiga anak didik tingkat SMP di Sekolah Rakyat (SR) kawasan Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, dikabarkan mengalami dugaan kekerasan oleh oknum mahasiswa. Salah seorang pelajar dengan inisial P bahkan harus dilarikan ke Puskesmas Ajung guna mendapatkan penanganan medis akibat cedera yang dideritanya.

Salah satu anggota keluarga korban, BD, menjelaskan insiden bermula saat seorang murid berinisial P kepergok menghisap rokok oleh mahasiswa Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) yang ditugaskan mengawal ketertiban para siswa.

“Awalnya teman ponakan saya, P, ketahuan merokok oleh mahasiswa Unhan RI yang membimbing kedisiplinan siswa. Jadi, yang merokok ini ditampar,” kata BD kepada wartawan, Senin (19/10/2026).

Menurut keterangan BD, seorang pelajar berinisial S lantas berupaya membela rekannya sambil mempertanyakan tindakan penamparan tersebut. Nahas, S justru ikut diserang. Pelajar berinisial P yang turut maju untuk melerai juga berujung menjadi korban dugaan kekerasan.

“Melihat itu, S membela dan menanyakan kenapa dipukul. Malah kena sasaran juga. Lalu, ponakan saya, P, ikut membela temannya. Terakhir, ponakan saya justru menjadi korban dan mengalami luka paling parah,” sambungnya.

BD menyampaikan bahwa P mendapatkan pukulan serta tendangan pada area dada dan punggung. Kondisi tersebut memaksa P mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Ajung pada Minggu malam.

“Ponakan saya dipukul dan ditendang di bagian dada serta punggung belakang. Sampai dirawat di Puskesmas Ajung tadi malam,” jelasnya.

Merasa tidak terima atas insiden tersebut, pihak keluarga korban langsung mendatangi Mapolres Jember guna membuat laporan resmi. BD menegaskan bahwa keluarga mendesak agar permasalahan ini diproses secara hukum.

“Hari ini saya ke Polres untuk mengajukan penyelesaian secara hukum karena ini kekerasan atau penganiayaan. Saya minta diproses secara hukum. Dari pihak sekolah juga tadi mengomunikasikan kepada keluarga agar tidak perlu melapor atau melakukan visum,” ujarnya.

Bagi BD, tindakan kekerasan sama sekali tidak bisa dibenarkan dengan dalih apa pun untuk mendisiplinkan anak didik. Dirinya berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.

“Jadi, biar ada efek jera. Membimbing seperti itu tidak dibenarkan. Jadi, bukan membimbing, tetapi menghajar,” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang diketahuinya, peristiwa itu berlangsung di dalam area asrama tatkala jarum jam menunjukkan pukul 20.00 hingga 21.00 WIB pada hari Minggu. Pada rentang waktu tersebut, tidak ada kegiatan belajar mengajar yang tengah berjalan.

“Kejadiannya antara pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Tidak ada kegiatan sama sekali semalam. Ternyata di luar kegiatan sekolah. Kejadiannya di dalam asrama,” katanya.

Akibat kejadian itu, P menderita luka lebam di bagian dada sebelah kiri. Saat ini, keadaannya sudah berangsur membaik dan telah diizinkan kembali dari puskesmas.

“Kondisi sekarang ponakan saya sudah pulang dan ada di Polres. Kami juga belum tahu keputusan ponakan saya, apakah akan melanjutkan sekolah atau tidak. Kalau saya, maunya sekolahnya tetap dilanjutkan,” harapnya.

Di sisi lain, BD mengaku belum mengetahui secara pasti status para mahasiswa yang disinyalir terlibat dalam peristiwa ini. Dirinya hanya mendengar kabar bahwa mereka berasal dari Unhan RI, tanpa mengetahui secara rinci apakah mereka sedang menjalankan tugas KKN, magang, ataupun bentuk penugasan lainnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat, Kartika Sari Dewi, belum memberikan pernyataan lebih detail saat dihubungi lewat sambungan telepon.

“Iya, iya. Mohon maaf ya, Mas,” ujarnya singkat. (AB)

Leave a Reply