Labkesmas Uji Sampel Makanan, Pakcoi dan Muntahan Korban Keracunan MBG di Sidoarjo

Sampel makanan hingga spesimen muntahan santri korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, tengah diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Surabaya. Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti insiden yang berdampak terhadap 556 santri tersebut.

Labkesmas Surabaya menerima tiga kotak sampel dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Ketiga kotak tersebut berisi sampel makanan MBG, spesimen muntahan santri, serta bahan makanan mentah.
Kotak pertama berisi satu tray makanan MBG dari bank sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kotak kedua berisi spesimen muntahan dari dua santri penerima MBG. Sementara kotak ketiga berisi dua ikat sayuran mentah jenis pakcoi.
Kepala Balai Besar Labkesmas Surabaya, Wisnu Trianggono, mengatakan proses pemeriksaan telah dimulai sejak sampel diterima dan dilakukan penyiapan spesimen.
“Proses unboxing dan penyiapan sampel telah dilakukan sejak Rabu pagi. Setelah itu, petugas langsung melakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap spesimen,” ujar Wisnu.
Menurut Wisnu, pemeriksaan dilakukan menggunakan dua parameter utama, yakni mikrobiologi dan kimia.
“Pemeriksaan dilakukan dengan dua parameter, yaitu mikrobiologi dan kimia,” kata Wisnu.
Untuk parameter mikrobiologi, terdapat sekitar enam hingga tujuh jenis mikroorganisme yang diperiksa. Sementara pemeriksaan kimia difokuskan pada kandungan nitrit.
Labkesmas Surabaya kemudian mempercepat pemeriksaan terhadap empat parameter mikrobiologi menggunakan metode express. Keempat parameter tersebut yakni Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Vibrio cholerae.
“Untuk pemeriksaan mikrobiologi, ada enam sampai tujuh jenis mikroorganisme yang diperiksa. Saat ini empat parameter kami percepat dengan metode express,” ujar Wisnu.
Empat pemeriksaan tersebut secara normal ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua hari. Namun, melalui metode express, hasilnya diupayakan dapat diketahui lebih cepat.
“Dengan metode express, hasilnya ditargetkan sudah dapat terlihat pada Kamis hari ini,” kata Wisnu.
Selain pemeriksaan mikrobiologi, petugas juga melakukan pengujian terhadap kandungan nitrit pada sampel.
Pemeriksaan nitrit diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari. Sementara parameter mikrobiologi lainnya masih membutuhkan waktu lebih panjang karena harus melalui tahapan penanaman sampel, pertumbuhan, hingga identifikasi mikroorganisme.
“Untuk pemeriksaan nitrit diperkirakan selesai dalam satu sampai dua hari. Sedangkan pemeriksaan mikrobiologi lainnya masih membutuhkan waktu karena ada proses penanaman, pertumbuhan, kemudian identifikasi mikroorganisme,” jelas Wisnu.

Secara keseluruhan, hasil pemeriksaan laboratorium ditargetkan paling lambat keluar pada Senin, 7 September 2026.
Hasil pemeriksaan yang telah selesai nantinya akan lebih dahulu disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

“Hasil pemeriksaan yang sudah selesai akan kami sampaikan terlebih dahulu kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur,” ujar Wisnu.

Hasil laboratorium tersebut akan menjadi bahan penelusuran untuk mengungkap penyebab pasti dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan santri.

Pemeriksaan terhadap sampel makanan, spesimen muntahan, serta sayuran mentah diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai faktor yang menyebabkan ratusan santri mengalami dugaan keracunan setelah menerima makanan dalam program MBG.

Leave a comment