Tiga Desa di Demak Disulap Jadi Kampung Nelayan Merah Putih, Rampung Tahun Ini?

Pemerintah Kabupaten Demak bersiap menyulap tiga desa menjadi lokasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Langkah ini diambil guna mendongkrak kesejahteraan warga sekaligus menggenjot pemberdayaan ekonomi di wilayah pesisir.

Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Demak, Arief Sudaryanto, menyebutkan bahwa mulanya ada empat desa yang diajukan. Namun, setelah melewati tahap verifikasi, hanya tiga desa yang lolos persyaratan.

“Kalau di Demak sebenarnya kita usulkan empat. Kemudian diverifikasi dan disetujui tiga desa, yaitu Desa Purworejo dan Betahwalang di Kecamatan Bonang, serta Desa Kedungmutih Kecamatan Wedung,” ujar Arief.

Ia menjelaskan, ketersediaan lahan milik desa yang belum terpakai menjadi salah satu poin penting dalam penentuan lokasi. Hasil verifikasi menunjukkan ketiga tempat tersebut telah memenuhi ketentuan KNMP.

Saat ini, pengerjaan di ketiga titik tersebut sudah dimulai, meski aktivitas fisiknya masih tahap awal.

“Kemarin terakhir kami melihat masih pembersihan lahan. Belum pembangunan fisik,” jelasnya.

Arief meyakini proyek pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini bisa rampung tahun ini. Mengingat sisa waktu tahun anggaran masih ada sekitar empat bulan, durasi tersebut dinilai cukup untuk merampungkan konstruksi.

“Kami memperkirakan tiga-tiganya bisa, karena ini tahun anggaran. Masih ada waktu sekitar empat bulan. Cukup saya kira untuk membangun konstruksi,” katanya.

Lebih lanjut, Arief memaparkan bahwa konsep KNMP dirancang bukan sekadar tempat tinggal nelayan, melainkan pusat kegiatan ekonomi pesisir yang terintegrasi.

Fasilitas yang disiapkan mencakup area bersandar bagi nelayan, tempat pelelangan ikan, hingga sarana penunjang seperti pabrik es mini.

“Kalau yang lengkap itu ada pabrik es mini. Sehingga hasil tangkapan ikan bisa diawetkan. Jadi kalau belum sempat dijual, ikannya bisa tetap awet,” ungkapnya.

Menurut Arief, penentuan titik lokasi juga memperhitungkan aktivitas nelayan dan keberadaan tempat pelelangan ikan yang sudah eksis sebelumnya.

Terkait standar pembangunan KNMP, ia menuturkan bahwa ketentuan teknis diatur langsung oleh pemerintah pusat lewat Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dari sisi kesiapan warga, Arief menilai para nelayan sudah siap menyambut program ini. Kendati demikian, pemkab merasa pendampingan serta sosialisasi tetap diperlukan, khususnya terkait tata kelola fasilitas yang kelak berstatus aset desa.

“Sudah. Tetapi memang nanti perlu pendampingan. Karena kalau ada hal baru yang menjadi milik desa, nanti pengelolaannya seperti apa,” ujarnya.

Pembentukan kelembagaan koperasi guna mengatur roda ekonomi di kawasan tersebut menjadi salah satu poin yang harus disiapkan. Sosialisasi pun digencarkan sebagai bagian dari syarat program.

Mengenai eksistensi KNMP berdampingan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang sudah ada, Arief berharap keduanya bisa saling bersinergi.

Pihaknya menegaskan kehadiran KNMP tidak bertujuan untuk menyingkirkan atau mematikan TPI lama.

“Kalau saya berharapnya bisa semacam kolaborasi. Kalau kemudian ada nelayan yang berlabuh di sini dan bisa dilayani untuk lelang di situ, ya mengapa tidak, sepanjang menguntungkan nelayan,” katanya.

Arief menambahkan, sampai sekarang belum ada aturan wajib yang mengharuskan seluruh hasil tangkapan ikan harus masuk dan dilelang di Kampung Nelayan Merah Putih.

Dalam prosesnya, tantangan utama yang dihadapi berkaitan dengan keterbatasan lahan, mengingat aturan program mewajibkan penggunaan tanah milik desa.

Arief memastikan pihaknya tidak mendapati adanya penolakan dari pemdes ataupun anggapan miring bahwa program ini bermuatan politis.

“Kami tidak melihat itu. Kesulitannya memang lebih kepada terbatasnya lahan,” ujarnya.

Kehadiran KNMP diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian warga pesisir. Selain mempermudah aktivitas nelayan, fasilitas baru ini juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

“Harapannya nanti ketika sudah berjalan, potensinya bisa menyerap tenaga kerja lokal,” pungkas Arief.

Leave a Reply