Praktik Jual Solar Subsidi Truk Sampah Terbongkar, Ulah Sopir DLH Surabaya Ketahuan

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya membongkar dugaan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang berasal dari tangki truk pengangkut sampah di dekat kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo. Aktivitas pemindahan solar tersebut diduga sudah berjalan menahun.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan dirinya sudah mendapatkan laporan langsung dari Kepala DLH Surabaya M Fikser mengenai temuan pengalihan solar dari tangki truk sampah ke tempat lain. Ia meminta agar kasus ini dibuka secara transparan dan diproses berdasarkan aturan hukum.

“Saya menerima laporan dari Kepala DLH Pak Fikser, masalah BBM yang puluhan tahun BBM ini diambil dari tangki truk, dioper lagi ke tempat lain,” kata Eri, Minggu (8/11/2026).

Menurut Eri, pengungkapan kasus ini merupakan bagian dari langkah perbaikan tata kelola pemerintahan. Dirinya mendorong seluruh perangkat daerah (PD) supaya berani membongkar berbagai penyimpangan, termasuk pelanggaran yang sudah terjadi dalam waktu lama.

“Saya bilang ke Pak Fikser, kalau itu amar ma’ruf nahi munkar, kalau itu kebenaran, tolong dibuka dan harus berani buka,” ujarnya.

Ia menegaskan, dugaan praktik jual beli solar bersubsidi di sekitar TPA Benowo wajib diproses secara hukum. Pemkot Surabaya tidak ingin penanganan perkara ini berhenti pada pemeriksaan internal saja.

“Aktivitas jual beli solar subsidi di sekitar TPA Benowo ini saya pastikan diproses hukum. Matur nuwun (terima kasih) teman-teman DLH yang sudah berani bongkar hal-hal tidak benar seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Surabaya M Fikser membeberkan bahwa terbongkarnya kasus ini berawal dari kegiatan survei lapangan guna persiapan penilaian Adipura. Pihak DLH membagi beberapa tim guna memeriksa kondisi wilayah, mencakup kawasan Surabaya Barat dan Selatan.

Ketika melaksanakan survei di kawasan barat, tepatnya dekat Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), tim harus menunggu pintu akses dibuka sebelum bisa melanjutkan pemeriksaan.

“Pada saat mereka survei, sampai di barat tepatnya di dekat GBT, itu kemudian terkunci. Mereka menunggu kunci itu dibuka, kunci pintu jalan ya supaya mereka bisa masuk,” kata Fikser.

Sambil menunggu akses tersebut dibuka, tim mendapati satu truk sampah DLH yang seharusnya langsung keluar dari kawasan justru mampir ke titik lain yang berhadapan dengan area parkir petugas.

“Pada saat proses menunggu mereka melihat ada truk sampah yang kemudian dia harusnya langsung keluar, tetapi dia mampir lagi ke satu tempat yang kebetulan berhadapan dengan tempat parkirnya teman-teman,” ungkapnya.

Mendapati gelagat mencurigakan itu, Kepala Bidang Kebersihan dan Pemberdayaan Lingkungan Hidup DLH Surabaya Wasis Sutikno beserta Sekretaris DLH Maria Agustin Yuristina langsung melakukan pengecekan.

Saat diperiksa, pengemudi truk tampak gugup ketika ditanya perihal isi sejumlah galon di tempat tersebut. Keterangan yang disampaikan dinilai tidak meyakinkan, sehingga petugas melanjutkan pengecekan ke area sekitar.

“Pada saat mereka datang semacam gerebek, supirnya ada agak sedikit panik, karena kemudian mereka bertanya ini galon apa, isinya apa. Jawabnya sudah pada enggak benar, sudah mencurigakan,” ujar Fikser.

Pemeriksaan tersebut membuktikan bahwa galon-galon itu memang berisi solar. Petugas lantas menelusuri sebuah gudang di lokasi dan mendapati banyak galon berisi bahan bakar serupa.

“Ternyata benar itu adalah solar. Mereka coba melihat lagi lebih ke dalam, ada suatu tempat gudang, begitu dibuka banyak galon-galon yang ada di sana,” ungkap Fikser.

Pihak DLH lantas memanggil dua sopir yang diduga terlibat untuk menjalani pemeriksaan internal serta berita acara pemeriksaan (BAP). Pada tahap pemeriksaan awal, keduanya mengaku baru menjalankan pemindahan solar selama sekitar dua bulan.

Kendati demikian, seusai dimintai keterangan lebih mendalam, salah seorang pengemudi mengaku sudah melakukan praktik tersebut selama kurang lebih lima tahun. Di sisi lain, sopir yang satu lagi diduga terlibat dalam kurun waktu yang lebih lama.

Fikser menegaskan bahwa penanganan perkara ini tidak hanya berhenti pada kedua pengemudi. Pihak DLH bakal menyerahkan temuan ini kepada aparat penegak hukum (APH) guna mendalami potensi keterlibatan pihak lain, termasuk unsur petugas administrasi di dalam dinas.

“Kita teruskan ke APH, biar nanti terbukti apakah memang itu semua driver atau kemudian ini petugas administrasi di kita juga ada yang bermain. Keduanya (driver) kita proses sebagaimana aturan dan yang pasti proses ini berat,” jelasnya.

Ia memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dijalankan sesuai prosedur yang berlaku. Pembenahan ini pun diharapkan menjadi pengingat bagi segenap perangkat daerah agar pengawasan terhadap pemanfaatan fasilitas serta anggaran operasional semakin diperketat.

“Saya serahkan semua proses ini sebagaimana prosedur yang ada. Pak Wali Kota itu perintahkan ke kami untuk bersihkan ini semua, supaya jadi pelajaran bagi PD yang lain, terutama pelajaran bagi anak-anak (driver) DLH sendiri,” katanya.

Di samping itu, Fikser memberikan apresiasi kepada para pengemudi DLH yang tetap bekerja secara jujur dan tidak ikut serta dalam penyalahgunaan BBM. Menurutnya, solar yang dialokasikan bagi kendaraan operasional harus dimanfaatkan secara penuh demi mendukung pelayanan kebersihan bagi masyarakat.

“Saya berterima kasih kepada para driver yang bersikap satria yang tidak melakukan pencurian, nyolong BBM yang seharusnya dipakai untuk memberikan pelayanan kepada warga Surabaya,” ujarnya.

Fikser turut berkomitmen memperketat pengawasan internal agar pelanggaran serupa tidak terulang kembali selama dirinya memimpin DLH Surabaya.

“Saya pastikan bahwa selama saya masih di Dinas Lingkungan Hidup praktik-praktik ini tidak akan terulang kembali,” tegasnya.

Dirinya juga menyampaikan permohonan maaf seandainya pelayanan DLH Surabaya selama ini belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi masyarakat. Ia berharap langkah perbaikan internal ini bisa beriringan dengan peningkatan mutu layanan kebersihan di Kota Pahlawan.

“Saya juga minta maaf apabila kemudian sampai hari ini layanan Dinas Lingkungan Hidup belum maksimal yang terbaik buat warga Surabaya. Mudah-mudahan ikhtiar baik kita untuk membuat Surabaya lebih baik bisa terwujud,” pungkasnya. (AB)

Leave a Reply